Bapa Gereja Pra-Nicea & Istilah Tritunggal
![]() |
| Illustrasi Doktrin Tritunggal |
Lembaga Menara Pengawal menerbitkan sebuah brosur berjudul 'Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?' untuk membuktikan bahwa ajaran Tritunggal tidaklah berdasarkan Alkitab karena beberapa alasan — 2 alasan yang saya bahas kali ini — yaitu pertama, Bapa Gereja pra-Nicea (sebelum tahun 325 M) tidak meyakini Yesus Kristus sebagai Allah dan kedua, karena istilah 'Tritunggal' tidak ada di dalam Alkitab maka ajaran tersebut tidaklah alkitabiah. Jujurkah Menara Pengawal terhadap fakta yang ada?
Keyakinan Bapa-Bapa Gereja Pra-Nicea
Bertentangan dengan pernyataan Lembaga Menara Pengawal yang menyatakan seolah-olah Yesus bukanlah Allah yang disembah oleh para Bapa Gereja Awal (Pra Nicea) seperti Justin Martyr, Irenaeus, Clement dari Aleksandria, Tertullian, Hippolytus dan Origen[1] (Saudara dapat melihat kutipan tulisan Menara Pengawal itu di Mengertikah Anda Doktrin Allah Tritunggal?); keilahian Yesus Kristus baru diteguhkan di dalam konsili Nicea dan Konstantinopel bahkan konsep Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman sejarah Alkitab dan beberapa abad setelahnya di dalam kutipan-kutipan berikut ini:
Jadi, bukti dari Alkitab dan dari sejarah membuat jelas bahwa Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman Alkitab dan selama beberapa abad setelahnya....Konsili Nicea memang meneguhkan bahwa Kristus adalah dari zat yang sama seperti Allah, dan hal ini menjadi fondasi untuk teologi Tritunggal di kemudian hari. Tetapi konsili ini tidak menyusun Tritunggal, karena dalam konsili itu sama sekali tidak disebutkan mengenai roh kudus sebagai pribadi ketiga dari suatu Keilahian tiga serangkai...Kaisar Theodosius....meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut. Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas [2].
Faktanya, sejak dari awal mulanya, Yesus Kristus dan Roh Kudus sudah disembah sebagai Allah oleh Bapa Gereja Awal pra Nicea, jauh sebelum adanya konsili Nicea maupun Konstantinopel, meskipun formula Tritunggal secara eksplisit baru terdefinisikan di konsili Nicea dan Konstantinopel. Perhatikan kutipan Louis Berkhof seorang teolog dan Bernhard Lohse[3] memberikan komentar akan para Bapa Gereja tersebut:
“They testify to a common faith in God as the Creator and Ruler of the universe and in Jesus Christ, who was active in creation and throughout the old dispensation, and finally appeared in the flesh. While they use the scriptural designation of God as Father, Son, and Holy Spirit, and also speak of Christ as God and man, they do not testify to an awareness of the implications and problems involved” (=Mereka menyaksikan tentang suatu iman umum kepada Allah sebagai Pencipta dan Penguasa dari alam semesta, dan kepada Yesus Kristus, yang aktif dalam penciptaan dan sepanjang Perjanjian Lama, dan akhirnya muncul dalam daging. Sementara mereka menggunakan penamaan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan juga berbicara tentang Kristus sebagai Allah dan manusia, mereka tidak menyaksikan tentang suatu kesadaran tentang pengertian dan problem yang tercakup) — ‘The History of Christian Doctrines’, hlm 40.
“Sejak dari semula orang Kristen tentu saja tidak hanya percaya kepada Allah dalam artian sebagaimana orang Yahudi mempercayai-Nya, tetapi mereka juga percaya kepada Yesus Kristus. Juga Roh Kudus seringkali disinggung oleh orang-orang Kristen, dan dalam cara yang berbeda dengan yang dimaksud oleh orang Yahudi. Kalau orang Kristen pertama-tama berbicara tentang Yesus Kristus, maka haruslah diingat bahwa mereka itu mengungkapkan imannya kepada-Nya dalam berbagai cara. Bagi gereja purba, Yesus Kristus adalah Mesias. Sebagaimana Injil Yohanes berkali-kali menekankan, pengikut-pengikut-Nya yang mula-mula memandang Dia sebagai yang tidak dapat dilepaskan dari Bapa. Ia dan Bapa adalah satu. Dalam bagian lain, Yesus disebut sebagai yang serupa dengan Allah Bapa (2 Kor. 4:4, Kol. 1:15)” – Pengantar Sejarah Dogma Kristen, hlm 47.
Nah, apakah tulisan-tulisan mereka itu diteguhkan oleh tulisan-tulisan para Bapa Gereja pra Nicea? Ya benar, tidak terbantahkan. Perhatikan kutipan berikut ini yang membuktikan bahwa jauh sebelum adanya konsili Nicea dan Konstantinopel, Bapa Gereja tersebut meyakini Yesus sebagai Allah, bahkan mereka telah menyebut istilah Tritunggal dalam tulisan-tulisan mereka.
Trypho menyatakan bahwa Justin Martyr (110-165 M) mengatakan bahwa Kristus telah ada sebagai Allah dalam kekekalan kemudian Ia dilahirkan dan menjadi manusia. —The Ante-Nicene Fathers, vol. 1, pg. 212
.…And Trypho said, ‘We have heard what you think of these matters.…For when you say that this Christ existed as God before the ages, then that He submitted to be born and become man….
Irenaeus (120-202 M) menyatakan bahwa “Allah, kemudian, menjadi manusia, dan Tuhan Diri-Nya Sendiri menyelamatkan kita. . .”
“God, then, was made man, and the Lord did Himself save us, giving us the token of the Virgin.” —The Ante-Nicene Fathers, vol. 1, pg. 451
Clement dari Alexandariia (±150 - 215 M) mengatakan bahwa ia tidak faham selain dari Trinitas yang Kudus yang dimengertinya sebagai Roh Kudus yang adalah ketiga dan sang Anak yang kedua yang menciptakan segala sesuatunya menurut kehendak Bapa. —The Ante-Nicene Fathers, vol. 2, pg. 202
“...and because of Him are all things; and he [or that] is the cause of all good things; and around the second are the things second in order; and around the third, the third,” I understand nothing else than the Holy Trinity to be meant; for the third is the Holy Spirit, and the Son is the second, by whom all things were made according to the will of the Father.”
Ia juga menulis Tuhan (Yesus, penulis) yang mengatur segala yang baik dan segala pertolongan, keduanya adalah sebagai manusia dan sebagai Allah; sebagai Allah, mengampuni dosa-dosa kita; dan sebagai manusia, melatih kita untuk tidak berdosa.
“The Lord ministers all good and all help, both as man and as God: as God, forgiving our sins; and as man, training us not to sin.” — The Ante-Nicene Fathers, vol. 2, pg. 211, The Instructor, Book 1, Chapter 3
Pada masa itu, Tertulian yang hidup sekitar 160-225 M sudah mengembangkan istilah Tritunggal dalam tulisan-tulisannya menyatakan bahwa: ia bersaksi bahwa sang Bapa, dan sang Anak, dan Sang Roh masing-masing tidak terpisahkan. Sang Bapa adalah satu, sang Anak satu, dan Roh satu, dan bahwa Mereka masing-masing berbeda. Perbedaan satu dengan lainnya hanyalah dalam keberadaan. Seluruh kitab suci mengakui keberadaan yang jelas dari perbedaan masing-masing (Pribadi) dalam Tritunggal. —The Ante-Nicene Fathers, vol. 3, pg. 603,606
We have already asserted that God made the world, and all which it contains, by His Word, and Reason, and Power….We have been taught that He proceeds forth from God, and in that procession He is generated; so that He is the Son of God, and is called God from unity of substance with God. For God, too, is a Spirit. Even when the ray is shot from the sun, it is still part of the parent mass; the sun will still be in the ray, because it is a ray of the sun-there is no division of substance, but merely an extension. Thus Christ is Spirit of Spirit, and God of God, as light of light is kindled. The material matrix remains entire and unimpaired, though you derive from it any number of shoots possessed of its qualities; so, too, that which has come forth out of God is at once God and the Son of God, and the two are one. In this way also, as He is Spirit of Spirit and God of God, He is made a second in manner of existence - in position, not in nature; and He did not withdraw from the original source, but went forth. This ray of God, then, as it was always foretold in ancient times, descending into a certain virgin, and made flesh in her womb, is in His birth God and man united.
Hippolytus (170-235) menulis bahwa Logos itu (Firman itu) adalah Allah, se-substansi dengan Allah. — The Ante-Nicene Fathers, vol. 5, pg. 151, Refutation of All Heresies, Book 10, Chapters 29
The Logos alone of this God is from God himself; wherefore also the Logos is God, being the substance of God. Now the world was made from nothing; wherefore it is not God; as also because this world admits of dissolution whenever the Creator so wishes it.
Origen yang hidup tahun ±250 menulis: “Roh Kudus itu diperhitungkan kedalam kesatuan dari Tritunggal, misalnya, bersama dengan Bapa dan Anaknya yang tidak berubah…” — The Ante-Nicene Fathers, vol. 4, pg. 253, De Principiis 1:3:4
“…the Holy Spirit [is] reckoned in the Unity of the Trinity, i.e., along with the unchangeable Father and His Son….
Tentunya apa yang saya tulis mengenai tulisan-tulisan Bapa Gereja tersebut hanyalah sedikit saja. Untuk mempelajari tulisan-tulisan Bapa Gereja itu lebih mendalam, saya persilahkan pembaca blog ini melihatnya di Early Church Fathers.
Jadi jelas, secara historis dan berdasarkan bukti-bukti yang ada, orang Kristen mula-mula telah meyakini Yesus sebagai Allah yang inkarnasi sebagai manusia, bahkan istilah Tritunggal pun telah digunakan jauh sebelum adanya konsili Nicea dan Konstantinopel.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, saya telah membuktikan bahwa tulisan-tulisan Menara Pengawal yang menyatakan sebaliknya merupakan dusta. Mengapa? Menara Pengawal menulis hanya sepotong bagian saja tulisan-tulisan Bapa Gereja tersebut dengan mengabaikan bagian lainnya dan dengan begitu berani memberi kesimpulan 'jadi, bukti dari Alkitab dan dari sejarah membuat jelas bahwa Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman Alkitab dan selama beberapa abad setelahnya'.
Tentunya pembaca yang telah membaca Memahami Lebih Dekat Tentang Kultus memahami bahwa salah satu ciri-ciri kultus adalah melakukan penipuan kepada orang untuk menyesatkannya.
Istilah Tritunggal
Jika Saudara berdiskusi dengan seorang Saksi Yehuwa mengenai ajaran Tritunggal, pernyataan pertama yang diungkapkan kepada Saudara untuk menolak ajaran Tritunggal adalah 'di mana ada istilah Tritunggal di dalam Alkitab? Jika istilah kata 'Tritunggal' tidak ada, maka ajaran Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab'
Tentunya, kita harus mengakui bahwa istilah kata ‘Tritunggal’ tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab. Namun begitu, ketiadaan istilah kata 'Tritunggal' bukanlah berarti Alkitab tidak mengajarkan konsep doktrin Tritunggal. Konsep doktrin Tritunggal dapat ditemukan di dalam Alkitab dengan jelas — meskipun tidak secara eksplisit terformula seperti di dalam kredo Athanasius — khususnya Perjanjian Baru dan secara samar-samar di dalam Perjanjian Lama. Dan menurut saya, jika kita menolak doktrin Tritunggal hanya berdasarkan alasan istilah kata ‘Tritunggal’ tidak ditemukan di Alkitab oleh sebab itu Alkitab tidak mengajarkannya maka argumentasi penolakkan tersebut sungguh kurang tepat dan dangkal karena ada banyak istilah-istilah yang digunakan Menara Pengawal yang juga tidak ada di dalam Alkitab tetapi konsep tersebut dapat ditemukan di dalam Alkitab. Misalnya, istilah kata 'teokrasi' — banyak digunakan oleh Menara Pengawal — tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab, tetapi jelas Alkitab mengajarkan konsep 'teokrasi', yaitu konsep pemerintahan atau pimpinan Allah langsung kepada umat Israel di Perjanjian Lama. Lalu karena Alkitab tidak menggunakan istilah 'teokrasi' apakah berarti kita harus menolak konsep pemerintahan atau pimpinan Allah langsung kepada umat Israel di Perjanjian Lama? Tentunya tidak, bukan? Kita harus mengakui bahwa konsep itu ada, tetapi Alkitab tidak menggunakan istilah 'teokrasi'.
Kita harus mengerti bahwa arti kata 'istilah' berarti suatu kata yang menggambarkan konsep tertentu. Jadi jika kita berbicara tentang Alkitab, maka suatu istilah tidaklah harus mutlak tercantum di dalam Alkitab, tetapi konsepnya haruslah ada di dalam Alkitab!
Menurut saya pribadi, Menara Pengawal memiliki sikap yang munafik, standar ganda dan maling teriak maling di dalam tulisan-tulisannya karena menolak dan mencela ajaran Tritunggal dengan istilah-istilahnya (seperti homoousios) sebagai ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab hanya semata-mata istilah-istilah tersebut tidak ada di dalam Alkitab. Padahal pada kenyataannya, Menara Pengawal sendiri pun banyak menggunakan istilah-istilah yang tidak ada di dalam Alkitab seperti Balai Kerajaan, kaum terurap, Sekolah Pelayanan Teokrasi, badan pimpinan dan lain-lain.
Agar adil dan berimbang, ketika saya berdiskusi dengan Saksi Yehuwa yang mengatakan istilah Tritunggal tidak ada di dalam Alkitab maka ajaran Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab, saya memintanya meneliti istilah 'kaum terurap' — yang merupakan ajaran penting Menara Pengawal — yang diyakininya sebagai suatu kelompok orang yang berjumlah 144.000 orang dan hanya kaum terurap saja yang dapat lahir baru. Inilah kutipan ajaran Menara Pengawal:
"Definisi: Dilahirkan kembali menyangkut dibaptis dalam air (”dilahirkan dari air”) dan diperanakkan oleh roh Allah (”dilahirkan dari . . . roh”), dengan demikian menjadi putra Allah dengan harapan untuk ikut memerintah dalam Kerajaan Allah. (Yoh. 3:3-5) Yesus mengalami hal ini, demikian pula halnya dengan ke-144.000 orang yang adalah ahli-ahli waris Kerajaan surgawi bersama dia.....Hanya orang-orang yang telah ”dilahirkan kembali”, dengan demikian menjadi putra-putra Allah, dapat ikut memerintah dalam Kerajaan surgawi" (Bertukar Pikiran, hlm. 93-94)
Pertanyaannya: Apakah Alkitab memiliki istilah 'kaum terurap'? Tentunya, tidak. Apakah Alkitab memiliki konsep atau mengajarkan hanya kaum terurap yang dapat lahir baru secara tersirat maupun tersurat? Mintalah rekan diskusi Saksi Yehuwa Saudara membuktikannya di Alkitab. Hasilnya? Saksi Yehuwa itu kebingungan membuktikannya, baik secara tersirat maupun tersurat. Mengapa demikian? Karena tidak ada satu pun ayat di Alkitab mengajarkan demikian.
Kita bisa lihat di kitab Yohanes pasal 3:1-12 yang merupakan pembicaraan antara Yesus dengan Nikodemus tentang ‘lahir baru atau dilahirkan kembali’ yang menggunakan istilah 'jika seseorang' yang artinya untuk lahir baru tidak terbatas kepada jumlah 144.000 orang saja, melainkan siapa saja dalam jumlah yang tak terbatas:
“Sebagai jawaban Yesus mengatakan kepadanya, “Sesungguh-sungguhnya aku mengatakan kepadamu: Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3)
Nah, justru istilah dan konsep 'kaum terurap' yang diajarkan oleh Menara Pengawal tidak mendapat dukungan Alkitab, baik secara tersirat maupun tersurat. Istilah dan konsep 'kaum terurap' hanyalah merupakan tafsiran Menara Pengawal atas Alkitab.
Bagaimana dengan istilah 'Tritunggal'? Meskipun istilah itu tidak tercantum di dalam Alkitab, tetapi faktanya, istilah kata 'Tritunggal' pertama kali digunakan oleh Bapa Rasuli Theophilus dari Anthiokia kira-kira tahun 170 di mana beliau hidup jauh sebelum konsili Nicea 325. Ia menulis:
"In like manner also the three days w'hich were before the luminaries, are types of the Trinity of God, and His Word, and His wisdom.”
Komentar Philip Schaff tentang Theophilus:
“He was the first to use the term ‘triad’ for the holy Trinity, and found this mystery already in the words: ‘Let us make man’ (Gen. 1:26); for, says he, ‘God spoke to no other but to his own Reason and his own Wisdom,’ that is, to the Logos and the Holy Spirit hypostatized”Ia adalah yang pertama menggunakan istilah ‘triad’ untuk Tritunggal yang kudus, dan sudah menemukan misteri ini dalam kata-kata ‘Baiklah Kita menjadikan manusia’ (Kej 1:26); karena ia berkata, ‘Allah berbicara bukan lain kepada AkalNya sendiri dan HikmatNya sendiri’, yaitu, kepada Logos dan Roh Kudus yang dipribadikan/dianggap sebagai pribadi — ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 733.
Lalu Tertulian yang hidup sekitar 160-225 M, menyempurnakan konsep dengan istilah 'Tritunggal' tersebut menjadi lebih nyata lagi, yaitu bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan 'satu esensi/substansi' - bukan satu dalam Pribadi, melainkan 3 Pribadi.
“All are of One, by unity (that is) of substance; while the mystery of the dispensation is still guarded, which distributes the Unity into a Trinity, placing in their order the three Persons - the Father, the Son, and the Holy Ghost: ”) —The Ante-Nicene Fathers, vol. 3, pg. 598, Against Praxeus, Chapter 2
Kesimpulan
- Ketika Menara Pengawal berupaya mendiskreditkan ajaran Tritunggal sebagai ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab dengan mengutip tulisan Bapa Rasuli pra-Nicea secara keliru, maka membuktikan bahwa Menara Pengawal merupakan sebuah organisasi yang tidak jujur dan telah berbohong kepada para pembacanya. Penipuan merupakan salah satu dari ciri-ciri organisasi kultus.
- Ketika Menara Pengawal menyatakan bahwa istilah kata 'Tritunggal' tidak ada di dalam Alkitab maka berarti konsep doktrin Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab, sikap Menara Pengawal tersebut merupakan sikap yang munafik dan maling teriak maling karena faktanya, istilah dan konsep ajaran Menara Pengawal mengenai 'kaum terurap' lah yang tidak memiliki keduanya yaitu baik konsep maupun istilah secara alkitabiah.
Jika sejak pada awalnya Bapa Gereja Awal meyakini Yesus Kristus sebagai Allah pencipta langit dan bumi yang inkarnasi menjadi manusia, lalu kapankah pemurtadan terjadi yaitu pandangan Yesus Kristus sebagai makhluk ciptaan? Lalu bagaimana proses dan berkembangnya doktrin Tritunggal? Apakah karena doktrin Tritunggal merupakan doktrin yang berproses dan berkembang membuktikan bahwa ajaran tersebut bukanlah ajaran Alkitab? Hal ini saya akan bahas pada tanggal 4 Jan 2012 sebagai kelanjutan dari seri Pemahaman Doktrin Allah Tritunggal.
Ada jalan yang lurus dalam pandangan seseorang, tetapi ujungnya adalah jalan-jalan kematian (Amsal 16:25, NW)
[1] Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal hlm. 7
[2] Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal hlm. 7 dan 8
[3] Menara Pengawal menggunakan pula buku ini sebagai referensi di brosurnya Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal yang di dalam bahasa Inggrisnya berjudul “A short history of Christian Doctrine” dan secara kebetulan saya memiliki buku ini juga dalam bahasa Indonesia.

Comments
Post a Comment